Risiko Tertular Penyakit Kelamin Karena Sering Gonta-ganti Pasangan

Cerita wanita-wanita sekitar Ahmad Fathanah dan kehidupan seseorang yang gonta-ganti pasangan membuat kita harus mengingatkan bahwa kehidupan seks bebas berisiko berbagai penyakit terutama Human Immunodeficiency Virus (HIV). PenyakitHIVterjadi pada semua kalangan. Penyakit ini bisa mengenai semua profesi, ibu rumah tangga (IRT) yang tidak gonti-ganti pasangan pun menderitaHIVkarena mungkin tertular dari suaminya yang suka “jajan” diluar.




Seorang ibu muda baik-baik yang akan menikah menderita HIV kemungkinan tertular dari mantan pacarnya yang menderita narkoba dimana saat pacaran sewaktu duduk di bangku SMA dulu pernah berhubungan seks beberapa kali. Berdasarkan pengalaman ini, untuk memastikan apakah seseorang menderitaHIV AIDS, tidak akan melihat status sosial pasien tersebut walau sehormat apapun status sosial pasien tersebut.

Kasus Fathanah membuat media menguak kehidupan seks para oknum pejabat dan petinggi negara. Gonta-ganti pasangan sepertinya sesuatu hal yang berjalan lumrah. Pejabat tinggi negara termasuk para penguasa daerah yang beristri lebih dari satu juga bukan rahasia lagi. Gratifikasi seks juga sudah tidak menjadi rahasia umum lagi. Dari sudut agama jelas bahwa hubungan seks di luar pernikahan resmi merupakan zinah dan amal ibadahnya tidak diterima selama 40 tahun.

Dari sudut kesehatan gonta-ganti pasangan berisiko penyakit, kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD). Untak para wanita yang gonta-ganti pasangan selain penyakit STD tadi juga berisiko untuk terjadinya kanker mulut rahim sedang untuk laki-laki gonta-ganti pasien akan menambah risiko untuk menderita kanker prostat di kemudian hari.

Ada contoh kasus ketika seorang pasien laki-laki muda menderita infeksi kencing nanah (GO) setelah berhubungan dengan wanita “baik-baik”. Sang pasien tidak habis pikir wanita yang disangka “baik-baik” tersebut ternyata menularkan kencing nanah kepada dirinya. Oleh karena itu, penyakit kelamin tidak mengenal status sosial. Siapapun yang berhubungan seks dengan dengan seseorang dengan kehidupan seks gonta-ganti pasangan berpotensi menularkan penyakit yang didapat dari pasangan seks sebelumnya.

Pasien dengan HIV positif atau dengan hepatitis B atau C sama dengan orang normal tanpa infeksi virus tersebut. Ketiga penyakit virus ini merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Yang membedakan bahwa satu dengan yang lain adalah bahwa di dalam darah pasien dengan HIV atau pasien dengan hepatitis B atau C mengandung virus tersebut sedang yang lain tidak.

Secara fisik tidak dapat dibedakan siapa yang di dalam tubuhnya mengandung virus yang sangat berbahaya tersebut. Oleh karena itu saat kita berhubungan seks dengan seseorang yang bukan istri kita maka kita sudah berisiko untuk mengalami penyakit infeksi yang berbahaya dan mematikan. Fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung selama 5-10 tahun sampai mereka mempunyai gejala. Oleh karena itu banyak pasien yang mengalamiHIV AIDSsaat ini dan menduga tertular pada saat 5 atau 10 tahun yang lalu karena mereka pernah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwapenyakit HIV-AIDSmerupakan penyakit yang berbahaya dan mematikan.

Penyakit ini disebabkan oleh virus “Human Immunodeficiency Virus” (HIV), dan ditularkan melalui hubungan seksual atau melalui jarum suntik yang tidak steril.

Gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun. Berbagai infeksi oportunistik akan muncul seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit atau berupa timbul hitam-hitam di kulit. Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini mengalami berat badan turun.

Hasil pemeriksaan laboratorium pasien terinfeksi HIV yang lanjut jumlah lekosit akan kurang dari 5.000 dengan limfosit kurang dari 1.000. Diare kronik, sariawan dimulut dan berat badan turun merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan sudah masuk faseAIDS.

Bagaimana mencegah infeksi ini lebih lanjut?

Stop gonta-ganti pasangan, stop gratifikasi seks.

Siapa saja yang pernah melakukan hubungan seksual, terutama hubungan seksual di luar nikah dan pernah menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau pernah menggunakan Narkoba jarum suntik dianjurkan untuk memeriksa status HIV-nya. Karena semakin dini pasien HIV diberikan obat anti virus (ARV) semakin cepat menurunkan jumlah virus dan mengurangi potensi penularan dan tentu pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV tersebut.

Gonta-ganti pasangan bukan merupakan budaya tapi merupakan kebiasaan dan tentunya kebiasaan buruk. Risiko gonta-ganti pasangan bukan saja pada prianya tapi juga wanitanya, ketika seseorang wanita dirayu oleh uang dan harta dan mengikuti keinginan naluri seks yang memberi uang, sebenarnya para wanita tersebut juga sudah berisiko untuk tertular penyakit dari laki-laki tersebut, begitu pula sebaliknya ketika si pria berhubungan dengan wanita yang mudah diraih dengan rayuan uang atau harta, laki-laki tersebut juga harus sadar mungkin para wanita tersebut baru saja jatuh dari pelukan laki-laki lain yang belum jelas status HIV-ya.

Bagi yang belum terjebak dari kebiasaan gonta-ganti pasangan sebaiknya tidak berhubungan seks sebelum menikah dan tetap setia dengan satu pasangan agar tidak terjebak kebiasaaan gonta-ganti pasangan yang berisiko penyakit yang berat dan mematikan walau kesenangan tersebut dapat diraih dengan mudah. Dan bagi yang sudah terlanjur terinfeksi HIV.


© 2014 Feggi NET. Template oleh Oto Net dan diberdayakan oleh Blogger.